Astronomi


Selama 1400 tahun sesudah abad ke-2, Ptolemy mengetengahkan teori mengenai Bumi sebagai pusat alam semesta. Diabad itu bangsa Arab masih melestarikan tulisan-tulisan dari bangsa Yunani. Diabad ke-16 pengetahuan bangsa Arab ini mengalir kenegara barat yang membawa sekitar lahirnya pengetahuan modern yang dipublikasikan oleh Nicolaus Copernicus.

Copernicus adalah astronom pertama, pada masanya hal ini menjadi jelas bahwa prediksi Ptolemy mengenai tata letak planet-planet ini ternyata keliru. Copernicus tahu benar bahwa seorang astronom Yunani, Aristarchus, diabad ke-3 telah memprediksikan planet-planet ini mengitari Matahari, bukan mengitari Bumi. Ia yakin bahwa sistim yang mendasari gagasan ini akan lebih menghasilkan ketepatan tata letak planetari.

Jika Mercurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter dan Saturnus – planet yang diketahui saat itu seluruhnya mengitari Matahari, dimana Mercurius yang terdekat dengan Matahari dan Saturnus yang terjauh, hal ini akan memperjelas gerakan-gerakan planetari yang semakin membuat teka-teki para pengamat. Sebagai contoh, mengapa planet Mercurius dan Venus tak pernah menjauh dari Matahari? Mengapa Mars, Jupiter dan Saturnus sesekali tampak mundur kebelakang? Akan halnya Bumi ini yang lebih kecil dan lebih cepat mengitari, namun mendahuluinya.

Ia tak sanggup untuk menentukan tata letak planetari secara tepat, dan sebagaimana ia tahu benar bahwa Gereja akan menentang teorinya, akhirnya Copernicus enggan untuk mempublikasikan.

Copernicus masih menerima kepercayaan bangsa Yunani bahwa obyek diruang angkasa ini bergerak dengan siklus perputaran kombinasi.

Tycho Brahe memberitahu bahwa apa yang diyakini oleh bangsa Yunani ini keliru. Temuan Tycho yang cukup berarti adalah di th.1572,, ketika sebuah obyek diruang angkasa bersinar terang kemudian lenyap seketika. Temuannya adalah sebuah obyek seperti apa yang kita ketahui sekarang ini, bintang yang meledak.

Tycho mempercayakan pengamatan berikutnya kepada Johannes Kepler. Disamping membuktikan kebenaran teori Tycho, Kepler kemudian memperjelas bahwa Bumi adalah salah satu planet yang juga mengitari Matahari. Di th.1609 ia memprediksikan dengan benar mengenai kisaran planet-planet bahwa orbit planet terhadap Matahari ini berbentuk lingkaran lonjong, bukan lingkaran bulat.

Sepuluh tahun kemudian Kepler menemukan hal-hal prinsipal yang memungkinkan para astronom dapat mengkalkulasi ukuran tata surya. Bahwa waktu yang diperlukan sebuah planet untuk mengitari Matahari adalah berkaitan dengan jarak planet dari Matahari. Semua temuan Kepler ini menjilma menjadi hukum yang menyangkut gerakan planet-planet sebagai tanda berawalnya astronomi modern.

Apa yang diyakini oleh Kepler dan Copernicus bahwa pusat alam semesta adalah Matahari, di th.1610 dikuatkan lagi oleh Galileo Galilei. Di th.1609 ia membangun sebuah teleskop dan diarahkannya kelangit.

Dua temuan Galileo dalam penelitian itu adalah diketemukannya Bulan yang mengitari planet Jupiter, dan perubahan yang berlangsung pada planet Venus dari bentuk bulat menjadi bentuk sabit. Galileo juga menjelaskan bahwa dengan teleskop terbesarpun bintang-bintang hanya akan kelihatan seperti setitik cahaya karena begitu jauhnya dari Bumi ini.

Dukungan Galileo terhadap temuan Copernicus bahwa Bumi ini bukan pusat alam semesta akhirnya membawa konflik dirinya dengan Gereja. Tapi walaupun Gereja menekan Galileo agar menyembunyikan temuannya, namun hal ini tak dapat menghentikan kalangan luas yang akhirnya mengakui teori bahwa Matahari adalah pusat alam semesta.

Pengkajian tentang obyek ruang angkasa ini telah sempurna di th.1665-6 ketika Isaac Newton menampilkan temuannya bahwa yang menjadikan planet ini mengitari Matahari dan manusia tidak terlempar dari gerakan Bumi adalah karena tarikan gravitasi. Akhirnya keyakinan tentang Bumi sebagai pusat alam semesta menjadi pudar.

Namun demikian tidak ada bukti temuan bahwa Bumi ini bergerak. Hal ini tak sampai th.1728 ketika James Bradley menggunakan teleskop besar untuk menemukan bukti bahwa Bumi ini bergerak dalam bentuk sebuah efek yang disebut ‘Penyimpangan cahaya bintang’. Bukti berikutnya terwujud satu abad kemudian oleh Friedrich Bessel yang di th.1838 telah mendeteksi paralak, atau perubahan letak.bintang yang berjarak dekat karena gerakan Bumi mengitari Matahari. Dari sini ia dapat menghitung jarak bintang dari Bumi.

Sementara itu, teleskop juga ikut menjembatani pengetahuan manusia tentang tata surya. Di th.1781 William Herschel menemukan planet Uranus, yang membuktikan bahwa tata surya ini merentang melampaui Saturnus, planet yang begitu jauh tampak dengan mata telanjang. Dengan teleskop ini kemudian diketemukan adanya dua planet lagi – Neptunus di th.1846 dan Pluto di th.1930. Herschel mulai melakukan survey mengenai distribusi bintang-bintang diruang angkasa didalam Galaksi kita ini yang ia perkirakan sebagai luas alam semesta. Ia memandang bahwa lingkup Bima Sakti ini berupa gugusan tebal, dimana gususan bintang-bintang ini semakin jauh semakin kelihatan bagai titik-titik cahaya yang menipis. Ia berkesimpulan bahwa Galaksi yang menghampar disekitar Matahari ini berbentuk lingkaran piringan.

Di th.1918 seorang astronom Amerika Harlow Shapley menyimpulkan bahwa Matahari ini terletak sekitar dua pertiga terhadap sisi tepi lingkaran Galaksi, dan merupakan salah satu diantara bintang-bintang lain yang tak terhitung jumlahnya dan banyak diantaranya yang ternyata berukuran lebih besar daripada Matahari ini.

Selama dua abad, keyakinan bahwa luasnya alam semesta adalah rentang luasnya Galaksi ini menimbulkan teka-teki. Di th.1924 teka-teki ini dipecahkan ketika Edwin Hubble membuktikan adanya galaksi-galaksi lain diluar galaksi kita. Banyak diantaranya yang jauh lebih besar daripada Galaksi kita ini.


Lahirnya Matahari dan Planet


 

Make a free website with Yola